Sahabat Saya Menunda Beli Asuransi

Berikut cerita tentang John, sahabat saya sejak kecil. Kami tumbuh bersama, bermain bersama.  Pada saat itu anak-anaknya berusia 6, 4 dan 1 tahun. John merencanakan memberikan anak-anaknya pendidikan terbaik hingga perguruan tinggi kelak.  Kehidupannya pun sudah ia rencanakan agar segala cita-cita dan angan-angan terhadap putranya bisa tercapai.

Suatu saat saya berkunjung ke rumahnya untuk membicarakan asuransi. Saya duduk dan mulai merancang sebuah program untuknya. Dia termasuk prospek yang alot untuk diajak wawancara. Banyak ide yang bertentangan yang dia ajukan. Menurutnya investasi pada saham perusahaan dapat menghasilkan keuntungan lebih banyak. Saya bersikeras bahwa asuransi tidak dapat dibandingkan seperti itu. Tidak ada pengganti bagi asuransi. Saya sampaikan juga bahwa tanpa asuransi, semua rencana untuk anak-anaknya tidak terjamin dengan aman.

Hampir 6 bulan saya berusaha, hingga akhirnya dia setuju. Permohonan asuransinya senilai Rp 500 juta disetujui. Baginya bukan masalah untuk membayar premi asuransi polis sebesar itu, tetapi ketika saya datang kembali untuk menandatangani kontrak dia meminta saya untuk menunggu sampai dia punya waktu untuk melakukannya. Setiap hari dalam beberapa minggu, saya terus menemuinya agar mau membayar premi agar polisnya tetap in force, tetapi saya selalu gagal.

Pada akhirnya, batas berlaku polis mulai habis sehingga saya harus menarik kembali polis tersebut ke kantor pusat.  Itu terjadi pada bulan Januari.

Saya tidak terlalu kecewa dengan kejadian ini, karena sebelumnya dia telah meyakinkan saya bahwa dalam musim panas mendatang dia berniat untuk menambahkan beberapa program perlindungan baru ke dalam program asuransinya.  Saya pun telah mencatat janji pertemuan berikutnya pada bulan Juni mendatang.

Baru tiga bulan setelah kejadian iu, tiba-tiba seorang teman menelepon saya, “John saat ini sakit parah dan sedang dirawat.”

Saya sama sekali tidak percaya pada ucapannya, “Ah, tidak mungkin. Tiga bulan lalu saya bertemu dengannya, keadaannya sangat sehat tidak kurang satupun.”

Dia berusaha meyakinkan saya, “Sungguh Bert, keluarganya membawa dia ke rumah sakit. Dia terserang kanker.”

Saya segera pergi ke rumah sakit untuk memastikan apa yang dikatakan teman tadi.  Ternyata benar, John sedang terbaring disana.  Pada mulanya dia hanya mengira telah menjalani operasi kelenjar biasa, tapi ternyata itu adalah kanker.  Bahkan hingga akhir hayatnya, John tidak pernah mengetahui penyakitnya.

Setelah tiba di ruang tunggu, istri John, Betty, bertanya pada saya, “Bert, saya mau bertanya sesuatu  padamu.  Apakah John sudah membeli polis yang seringkali kau tawarkan itu?”

Pertanyaan yang sangat memukul saya.   “Aku sangat menyesal mengatakannya Betty, tapi dia belum membelinya.”

“Bisakah dia membelinya sekarang, Bert?”  Kedengarannya sangat tragis.

“Sayang sekali Betty,sekarang sudah terlambat.  Dalam keadaan seperti ini, John tidak bisa membeli asuransi lagi.”

John hanya mampu bertahan beberapa bulan kemudian.  Pada minggu pertama bulan Mei, dia pergi meninggalkan seorang janda dengan tiga orang anak yatim.  Karena hubungan yang dekat dengan keluarga John, keluarga meminta saya menjadi salah seorang pengusung jenasahnya.  Sambil berjalan saya merenungi bahwa saya telah gagal lagi melindungi satu keluarga, dalam hal ini keluarga teman saya sendiri.  Ketika peti mati mulai diturunkan, pemimpin upacara pemakaman meminta setiap pengusung jenasah untuk melemparkan sarung tangam abu-abu kedalam liang lahat.

Setelah acara pemakaman selesai, kami diundang ke rumah keluarga John. Di sana kami mendapatkan jamuan kue ala kadarnya. Bersamaan dengan itu, tiba-tiba pintu depan terbuka. Dua anak laki-laki masuk sambil berlari-lari dan tertawa diikuti oleh seorang ibu yang sedang menggendong anak yang masih kecil. Mereka adalah anak-anak dan janda John.

Hal ini seperti yang saya kuatirkan sebelumnya. Saya segera menaruh cangkir kopi yang baru saja saya minum dan langsung pamit pulang. Setiba di rumah, saya kumpulkan semua anak-anak saya dan memeluk mereka erat-erat.

Sesunguhnya saya bisa berbuat lebih banyak lagi bagi keluarga John.  Saya bisa menjamin pendidikan mereka hingga perguruan tinggi kelak, menjamin segala kebutuhan keluarga dan kebutuha anak-anaknya.  Saya gagal memberikan perlindungan sebesar Rp 500 juta bagi istri dan anak-anaknya.  Satu-satunya yang telah saya berikan kepada John hanyalah sepasang sarung tangan abu-abu yang saya lemparkan ke dalam kuburnya.

(Kutipan Buku Umberto A. Palo: Misi versus Komisi)

***

Untuk konsultasi tabungan asuransi Prudential, hubungi Rony: 0812 411 45 999

About Rony M

Rony adalah agen asuransi Prudential dengan kode agen 00266224 dan nomor lisensi AAJI: 11379005. Untuk konsultasi dan presentasi tabungan asuransi Prudential, hubungi Rony: 0812 411 45 999 atau email: ronce158@gmail.com.
This entry was posted in 2. Sahabat Saya Menunda Beli Asuransi and tagged . Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s